Buoneparte’s Weblog

January 17, 2012

Sampai Kapan PSSI bertindak BODOH??!!

Filed under: Daily life — buoneparte @ 11:20 am

Gw memang bukan penikmat sejati Liga Indonesia. Satu-satunya kenangan gw menonton pertandingan Liga di stadion waktu itu Persita vs Persebaya di stadion benteng Tangerang sekitar 95an mungkin. Waktu itu Carlos de Melo di Persebaya sedang menggila. Setelah itu, sama sekali tidak pernah. Gw bahkan cuma tahu pemain-pemain lokal yang bermain untuk TimNas, selebihnya buta. Beda ceritanya kalau gw menonton pertandingan Manchester United atau Fiorentina, gw pasti bela-belain biarpun itu jam 3 pagi.

Tapi untuk pertandingan TimNas, gw selalu berusaha menyempatkan diri nonton di GBK atau minimal di TV.

Gw sempat bergairah ketika rezim Nurdin Halid akhirnya runtuh dan digantikan Djohar Arifin. Kenapa? Karena mungkin saja ini bisa jadi awal kebangkitan Liga yang lebih profesional, lebih bersih dan bebas korupsi serta suap. Apa lacur, rezim Djohar malah sama buruknya. Malah cenderung lebih parah karena bertindak seperti DIKTATOR KESIANGAN!!

Ada quote dari salah satu pemain TimNas yg pernah ngobrol bareng. Dia bilang “Rezim lama sama mafia nya hanya saja mereka lebih pintar dan berlindung dibalik statuta. Mereka mampu bermain lebih halus. Rezim sekarang lebih gila. Mereka tangan besi, gak suka dengan kebijakan langsung ditebang”. Trus, pergantian rezim ini jadi kemunduran donk?

Gw menulis ini bukan karena gw menginginkan NH balik atau gw pendukung NH. Tapi, sebagai sebuah bentuk keprihatinan, inilah akibatnya jika sebuah boneka didudukkan di sebuah lembaga.

Djohar Arifin hanyalah boneka. Kita semua sudah tahu siapa dalang nya. Orang yang bersikeras ingin jadi Ketum PSSI hanya saja diganjal 1001 aturan. Akibatnya, semua kebijakan PSSI sekarang seolah ingin MENGHAPUS memori rezim lama. Format liga diacak-acak, yang dulu berseberangan disingkirkan. Teman yang dulu mendukung perjuangan rezim baru dirangkul dan diberi BONUS.

Quote dari artikel Bambang Pamungkas, “Satu Bintang itu Milik Kami” – Salah satu hal yang memicu kontroversi publik dalam pembentukan Liga Premier Indonesia adalah naik nya PSMS Medan ke kasta tertinggi kompetisi di Indonesia sebagai tim undangan, yang dinilai berdasarkan sejarah dan sumbangsih PSMS Medan kepada perkembangan persepakbolaan Indonesia di masa lampau. Membahas mengenai sumbangsih dan sejarah, maka hal tersebut menjadi sangat menarik untuk dibahas..

Adalah sebuah keanehan jika ada klub yang naik kasta hanya karena SUMBANGSIH nya. Di seluruh dunia, mungkin cuma di Indonesia ada kejadian seperti ini. Bodoh bukan? Napoli pernah terdegradasi, apakah FIGC kemudian membatalkan degradasi Napoli karena Napoli punya sumbangsih untuk Liga Italia? Djohar Arifin dan kroni-kroni nya entah terlalu pintar atau mereka menganggap Liga ini sebagai mainan layaknya Football Manager?

Belum lagi Bontang FC yang naik kasta sebagai TIM DEGRADASI TERBAIK. Tim degradasi terbaik?????? Emang ada yah?? Kalau udah degradasi ya sudah, selesai. Silahkan terima nasib berkompetisi 1 tingkat di level bawah. Lain ceritanya kalau Bontang FC lolos dari hasil play-off. Itu jelas hasil kompetisi. Lah ini tim degradasi terbaik???? Bahasa Indonesia nya aja udah berantakan.

Pantas lah kalau kita diludahin Malaysia, atau hanya bisa jadi Mister Runner-Up. Boro-boro membentuk TimNas yang kuat, bikin kompetisi yang kompetitif dan bersih aja PSSI TIDAK MAMPU!!!

Jangan salahkan pemain yang sudah berjuang mati-matian di lapangan. Jangan salahkan pelatih karena tidak boleh memanggil pemain yg bermain diluar “Liga Resmi”. Salahkan PSSI yang membuat terjadinya dualisme Liga.

Kenapa sih Sepakbola harus dipolitisir? Kenapa para petinggi-petinggi itu tidak bisa duduk 1 meja, gencatan senjata, berdiskusi dengan kepala dingin demi kemajuan sepakbola Indonesia? Semua yang bersebrangan dianggap lawan. Pantas aja kalau jalan di tempat. Tidak ada kemajuan.

Tolong, dalang yang duduk manis dibelakang sana, STOP POLITISASI SEPAKBOLA!!! Semua penikmat sepakbola tahu kalau Djohar Arifin hanyalah boneka!!!!

January 9, 2012

The Stubborn Fergie – Man United half season review 2011-2012

Filed under: Daily life — buoneparte @ 11:16 am

Hanya sekedar review amatir dari seorang Manchunian. Review ini gw buat setelah agak sedikit muak menyaksikan pertandingan babak ke-3 Piala FA antara Man City vs Man United di Etihad stadium. Kenapa muak? Karena setelah unggul mudah 3 gol di babak pertama, MU langsung mengendurkan serangan dan bermain seperti takut kalah. Apakah memang seperti itu taktik yang diterapkan Fergie di babak kedua? Well, who knows.

MU memasuki musim kompetisi ditinggalkan 3 pemain senior sekaligus, Gary Neville, Paul Scholes dan Edwin Van Der Sar. Khusus untuk Gary, Fergie mungkin tidak terlalu pusing karena sudah ada Chris Smailling yang bisa bermain sebagai bek kanan, walaupun posisi idealnya adalah bek tengah. Selain itu masih ada si kembar Rafael dan Fabio. Masalah pelik adalah United butuh sosok kreatif sepeninggal Scholes. Fergie sebenarnya sangat berminat mendatangkan Wesley Sneijder. Hanya saja, harga tinggi plus kemungkinan dewan direksi tidak mengabulkan tingginya gaji Wes Sneijder membuat SAF maju mundur dalam pengejaran Sneijder. MU akhirnya memang mendatangkan Ashley Young. Tapi perlu diingat, Young adalah seorang Winger, bukan Midfield Playmaker sperti Scholes. Hal ini membuat posisi sayap kanan kiri penuh sesak dengan Park Ji Sung, Giggs, Nani dan Valencia. Jika strategi musim ini MU akan menyerang dari sayap, hal ini bisa dimengerti. Hanya saja,  bagaimana kalo opsi sayap mentok? Disinilah peran seorang playmaker dibutuhkan. Dia akan mengatur kemana arah serangan bergulir.

MU memang masih punya sosok Michael Carick. Hanya saja, Carrick bukan pemain yang konsisten. Bermain brilian di satu pertandingan untuk kemudian bermain seperti pemain medioker di pertandingan berikutnya. Bagaimana dengan Darren Fletcher? Visi Fletcher tidak sebagus Scholes dan Flecther bukan seorang gelandang kreatif.

Satu posisi lagi yang mengkhawatirkan adalah pos penjaga gawang. Sebelum VDS pensiun, Fergie sudah mendatangkan Anders Lindergaard. Lindergaard kiper bagus. Hanya saja, dengan performa VDS yang konsisten, dia jarang mendapatkan kesempatan tampil. Jika bermain, Lindergaard menunjukkan bahwa dia pantas menjadi United’s Number 1. Refleksnya bagus, penempatan posisi nya prima, mungkin distribusi bola nya saja yang hrs diasah lagi. Tentu SAF ingin Lindergaard punya kompetitor untuk pos kiper dan SAF pun membeli David De Gea dari Atletico Madrid dengan 18 jt Pounds. Sebuah harga yang mahal untuk seorang kiper muda yang baru bermain semusim di Liga Spanyol.

Bermain di partai debut Community Shield melawan tetangga yang berisik, Man City, De Gea bermain gugup di babak pertama. Gol yang seharusnya bisa dihindari, terjadi. Sama sekali tidak terlihat sebagai seorang kiper yang dihargai 18 Jt Pounds. De Gea memang bermain lebih baik di babak kedua, tapi itu seolah cerminan permainannya di musim yang akan dijalani nya. Inkonsisten. Yah, sama seperti Tim Howard ketika menjalani debutnya untuk MU, De Gea juga seperti itu. Bermain brilian di satu pertandingan, utk kemudian bermain medioker di pertandingan berikut. Momen kebangkitan sempat muncul ketika dia berhasil menepis pinalti Robin Van Persie pada pertandingan yang dimenangkan MU 8-2 di Old Trafford. But that’s it. Kesalahan demi kesalahan terus membayangi. Salah satu kelemahan De Gea adalah keragu-raguannya memotong umpan silang. Miskalkulasi yang akhirnya mengakibatkan gawangnya kebobolan. De Gea seorang excellent shot stopper. Refleksnya tidak perlu diragukan, bahkan ini keunggulan dia dibanding Lindergaard. Hanya saja, banyak aspek yang diharapkan dari seorang penjaga gawang dan Umpan Silang harus dijadikan latihan tambahan untuk De Gea.

SAF akhirnya sering merotasi penjaga gawangnya. Sebuah blunder sebenarnya. Kenapa dikatakan spt itu? Bagaimana MU bisa mempunyai tembok kokoh di lini pertahanan? Karena VDS-Vidic-Ferdinand bermain untuk waktu yang lama.  Tdk perduli siapa bek kiri atau kanan, asalkan 3 pemain ini bermain bersama, dijamin gawang MU akan sulit ditembus. Bagaimana dengan musim ini?

Selain masalah cedera yang merundung para pemain belakang, SAF sepertinya ingin meremajakan lini belakangnya dengan memasang anak muda. Duet Vidic-Evans/Smailling diapit Phil Jones dan Evra bermain bagus di awal musim. Ini adalah cetak biru pertahanan MU setidaknya 3 musim ke depan. Phil Jones bermain luar biasa. Penetrasi nya sbg wingback benar2 luar biasa. Evans, walaupun bukan konsisten performer tapi tetap seorang bek tengah yang tangguh, begitu pula dengan Smailling.

Dan akhirnya badai cedera mendera. Berturut-turut pemain muda nya tumbang karena kelelahan dengan padatnya jadwal MU. Bahkan SAF pernah hanya punya 1 bek tengah yang siap tempur hingga akhirnya memaksa seorang Carrick bermain sebagai bek tengah dan Valencia sebagai bek sayap kanan. Apakah ada yang salah dengan metode latihan MU, atau staff medis MU memang harus diganti mengingat banyaknya pemain yang keluar masuk ruang terapi. Sembuh hanya untuk bermain di 1 pertandingan kemudian absen 3 pekan.

Ada sedikit harapan ketika jendela transfer musim dingin dibuka. SAF membeli pemain, setidaknya pemain tengah untuk menjaga kedalaman skuad United. Tapi Fergie tetap ngotot dengan pendiriannya tidak akan membeli pemain baru. Yang lebih mengejutkan, Fergie menerima kembali Paul Scholes di tim utama setelah memutuskan pensiun. Aneh, SAF spt terikat oleh romantisme kelas ’92 nya. Scholes memang pemain bagus, tapi, apakah dia bisa langsung nyetel setelah hampir 7 bulan tidak bermain di level tinggi seperti premier league?

MU tdk mempunyai masalah di lini depan. Mereka punya striker berkelas dengan kualitas yang bisa dikatakan sama. Apakah SAF akan tetap mengandalkan Scholes utk musim depan juga? Akan lebih bagus bila Fergie membeli seorang gelandang kreatif yang “sudah jadi” bukan lagi pemain muda. Sneijder opsi yang bagus. Plus dengan deraan cedera di lini belakang, mungkin SAF bisa membeli seorang bek tengah, mengingat Jones dan Smailling bisa dipasang jadi Bek Sayap, pos bek tengah lebih penting untuk dijaga kedalamannya.

Kiper, SAF harus menentukan siapa kiper utama MU. Lindergaard atau De Gea dengan mengenyampingkan harga beli masing-masing. Setiap kiper punya kelebihan dan kekurangan. Mainkan terus si kiper sehingga terjadi chemistry yang baik antara si Kiper dengan duet bek tengah nya.

Opa Fergie harus mengenyampingkan ego dan keras kepala nya. Saatnya berbenah.

Glory Glory Man United!!!!!!

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.