Buoneparte’s Weblog

August 21, 2008

Pengalaman Mengambil SIM di Pengadilan

Filed under: Daily life — buoneparte @ 10:02 am
Ini gw copas dari Milis SAG, pengalaman rekan sesama airsofter yang mengambil SIM setelah ditilang. Mudah-mudahan informasinya berguna buat kita semua..
Mungkin kalau ada rekan2 yang belum tahu, informasi ini bisa berguna. Jadi, cerita singkatnya begini, saya terkena tilang dan mendapat SLIP MERAH. Waktu itu sebenarnya saya kepikiran untuk meminta slip biru yang populer itu. Tapi karena saya juga tidak terlalu paham dg liku2 dua jenis slip itu, saya tidak protes ketika pak polisi memberi slip merah. Karena kejadian ini berlokasi di Mampang/ Buncit, maka saya harus mengikuti sidang di PN Jaksel di Jl. Ampera Raya.

Selama dua minggu menunggu hari H, saya mencari info dari internet (termasuk di milis SAG juga). Dari berbagai info tersebut bisa saya simpulkan beberapa hal :

1. Saat ini (setidaknya di DKI) ada kecenderungan dari pihak polantas untuk menolak memberikan slip biru dengan alasan adanya instruksi kapolda. Yang menarik, jika ditinjau surat perintah Kapolri, sebenarnya slip biru masih berlaku. Saya kurang tahu mana yang kedudukan hukumnya lebih tinggi, perintah Kapolri atau Kapolda, tapi intinya slip biru sudah tidak berlaku. Dari beberapa informasi, jika pelanggar meminta slip biru, yang terjadi adalah debat kusir antara si pelanggar dengan polantas ybs. (kadangkala debat berlangsung dg BEBERAPA polantas sehingga tampak cukup ‘meriah’).

2. Menjalani prosedur slip biru tampaknya lebih merepotkan daripada slip merah. Jika menerima slip biru, maka si pelanggar harus bolak-balik dari BRI ke Poslek atau pos polisi tempat ia harus mengambil SIM-nya. Sedangkan bila mendapat slip merah, maka si pelanggar bisa menempuh dua pilihan :

  • Menjalani pengadilan : pilihan ini dari beberapa informasi yang saya dapatkan tampak kurang menjanjikan. Selain sidang yang secepat kilat sehingga tidak jelas kenapa juga harus ada sidang, biasanya antrean sidang sangat banyak. Durasi menunggu juga lama (1 jam). Ada pula kemungkinan sidang bisa saja dinyatakan batal (meski ini jarang terjadi) krn bapak hakim ada keperluan dinas, dll. Singkat kata, bukan pilihan menarik. Namun bagi mereka yang menyukai “wisata sosial” (maksudnya melihat2 kejadian/ suasana baru) mungkin silakan ikut sidang saja, karena konon banyak perilaku manusia yang menarik utk diobservasi atau sekedar ditertawakan.
  • Tidak menjalani pengadilan : pilihan ini lebih menarik, karena ternyata jika si pelanggar tidak hadir sidang, maka perkara yang bersangkutan akan tetap divonis secara in-absentia (kalo nggak salah bahasa lainnya : verstek). Jadi si pelanggar tinggal hadir pada tanggal lain SETELAH hari sidang, lalu mengambil SIM di loket tilang, bayar denda, lalu pulang. Kemungkinan terkena “biaya siluman” tetap ada, meskipun lebih kecil drpd harus menggunakan jasa calo.

Akhirnya saya memilih untuk datang sehari setelah hari H. Saya sengaja berangkat agak siang untuk memperkecil kemungkinan antri. Setelah parkir di lokasi yang agak jauh (Bagi yang naik mobil, disarankan untuk tidak parkir di dalam halaman pengadilan, krn penuh. Parkir saja bbrp puluh meter sebelum pengadilan — kalau dr arah Kemang— di depan sebuah rumah besar berpagar putih-hijau, ada ruang kosong cukup luas), saya pun berjalan ke dalam pengadilan. Di depan pengadilan, ada beberapa calo saja yang nongkrong sambil menjaga penitipan motor “tidak resmi.” Ketika akan masuk pintu depan, ada seseorang berkaos “Pengadilan Negeri Jakarta Selatan” bertanya “Mau ke mana Pak?”.. belum sempat saya menjawab dia sudah menyahut “Mau ngambil tilang ya?” Saya jawab saja “iya”. Lalu si bapak ini menyarankan agar saya lewat pintu samping saja. Karena si bapak tidak terlalu jelas calo apa bukan, saya gambling aja, saya menuruti sarannya.

Saat saya berjalan ke pintu samping, si bapak sempat menawarkan jasa untuk “mengambilkan SIM”, saya tolak saja dengan sopan. Ternyata si bapak tidak rese, dia diam saja dan tidak mengejar2 saya seperti seorang calo.  “Pintu samping” yang dimaksud adalah sebuah pintu besi yang besar & tinggi, dan yang paling penting : terbuka. Saya jadi mikir, apa gunanya detektor metal di pintu depan kalau pintu samping terbuka seperti ini? Akhirnya saya sampai di “loket” yang dimaksud, yaitu sebuah jendela yang dibuka, dengan seorang bapak2 menghadap keluar yg sedang sibuk mengurusi berkas. Tanpa meminta biaya siluman, tanpa lama (karena nggak ada antrian juga sih..), si bapak mengambilkan SIM saya dan meminta denda Rp 50.000 (yang memang sesuai kententuan bagi pelanggar yang mengendarai mobil di wilayah DKI). Total waktu yang dibutuhkan dari mulai parkir, mengambil SIM, lalu balik lagi ke mobil tidak sampai 5 menit.

Kesimpulannya? Indonesia masih punya harapan utk bebas korupsi. Ada kok petugas/ pegawai/ pamong praja yang menjalankan tugasnya dengan bersih. Selain itu, asalkan kita tahu informasinya, kita bisa mematuhi peraturan tanpa harus repot. Mari kita berdisiplin dari hal-hal kecil dulu, seperti mengambil SIM, hehehe…. MERDEKA!!!


Best Regards,
Wahyu CN

August 19, 2008

Cerita dibalik kebangkitan Industri Jerman era Nazi

Filed under: Sejarah / History — buoneparte @ 2:42 pm

Artikel ini gw rangkum dari beberapa sumber, diantaranya Majalah Angkasa, Buku Henry Ford dan banyak lagi. Juga ada dari beberapa perbincangan di milis J. Intinya begini, bagaimana Jerman yang pasca PD I dilanda depresi hebat, tiba-tiba bisa membangun kekuatan perang sebegitu masif dan hebatnya. Duitnya darimana???? Nah, ini dia ceritanya…

 

Banyak orang tak habis pikir bagaimana Jerman yang pada tahun 1930-an masih terikat Perjanjian Versailles dan terlilit depresi ekonomi berat, dapat gencar membangun angkatan perang yang begitu besar. Darimana mereka mendapat uang dan bahan mentah untuk menggerakkan industri persenjataannya?

 

Jawabannya : semua itu bisa terlaksana karena Hitler memiliki sejumlah industrialis setia di sebelah kanan kursi kepemimpinannya. Mereka adalah pendukung Nazi yang selalu siap memenuhi apa yang diinginkan. Dan yang tak kurang penting, mereka berkawan dengan sejumlah pemodal dari luar negeri yang diam-diam berani memutar uang di negeri ini.

 

Untungnya kala itu di tengah keterpurukannya selepas Perang Dunia I, pamor Jerman sebagai negara industri terkuat di Eropa belum pudar benar. Hal ini menyebabkan tak sedikit investor yang masih mau menanam modal di negeri ini dengan harapan bisa meraup untung dalam beberapa tahun. Arah dan gaya kepemimpinan Hitler memang merupakan permasalahan tersendiri, namun hal ini tak terlampaui menjadi masalah karena uang akan diputar secara terselubung. Para usahawan Jerman itu tahu benar bagaimana melakukannya.

(more…)

Next Page »

Blog at WordPress.com.