Buoneparte’s Weblog

September 24, 2008

Never ever gone…

Filed under: Daily life — buoneparte @ 1:54 pm

The feeling never ever really gone. It stayed there for years. It was a devil wish that somebody you might and hopefully will turn your head and your heart to me.

It was a greedy wish that somebody your story, your passion, your sadness, your tears, your laughter, your happines and your love fulfill my day.

I always cast aside a part of my heart for you.

And yet, i don’t have any courage to say these words to you. But i can prove to you that i can love you and will love you with all of my heart, with all of my strength, with all of my breath, with all of my life..

September 22, 2008

Bendera Pusaka – Sebuah Pelurusan Sejarah ??

Filed under: Sejarah / History — buoneparte @ 10:20 am

Pertama-tama, ini bukan tulisan gw. Tapi sebuah opini dari rekan blogger yang gw copas dari http://anusapati.blogdetik.com .

Silahkan dibaca, cermati, diskusikan, tapi jangan dijadikan bahan perpecahan..

Bendera Pusaka

Jahitan tangan di Bendera Pusaka dilepaskan. Jadilah dua lembar kain. Mutahar – sopir tentara yang juga pencipta lagu brilian itu – memisahkan kain berwarna merah dan putih, masing-masing dalam dua tas besar. Keduanya dijadikan dasaran tas. Sejak itu, secara riil bendera merah putih hasil karya Ny Fatmawati yang sakral sudah tamat. Tugas sejarahnya sudah selesai.

Saya pikir ada yang salah dengan persepsi orang (dan sedihnya pers juga) bahwa Bendera Pusaka Merah Putih yang saat ini ada di Istana Merdeka (menunggu pemindahan ke Monumen Nasional) adalah karya Ny Fatmawati. Memang benar bahwa istri kedua Soekarno tersebut yang membuat bendera pusaka merah putih untuk dikibarkan saat proklamasi 17 Agustus1945. Tapi karyanya sudah musnah sejak 19 Desember 1948.

Pada tanggal itu, langit Jogja sudah dipenuhi oleh seliweran pesawat tempur Belanda. Ya, Jogja tengah menghadapi Agresi Militer II. Soekarno yang gundah memanggil Hussein Mutahar, sopir yang sejak beberapa waktu mengemudikan mobilnya. Pada Mutahar, Soekarno menitipkan bendera pusaka. Ia tak mau, bendera keramat itu didekap Belanda bersamaan dengan penangkapan dirinya nanti. Apa kata dunia bila simbol bangsa musnah? Mungkin begitu pikirnya.

Mutahar yang kebingungan sekaligus ketakutan, akhirnya memutar otak. Tidak perlu mondar-mandir seperti fragmen picisan, ketemulah solusinya. Bendera yang dijahit tangan oleh Ny Fatmawati itu harus dibongkar, dipisahkan antara kain berwarna merah dengan putihnya. Logika Mutahar sederhana. Bendera yang dipisahkan tidak bisa lagi disebut bendera, hanya cuma dua lembar carik kain yang tidak bermakna.

Atas bantuan Ny Perna Dinata, jahitan tangan di Bendera Pusaka dilepaskan. Jadilah dua lembar kain. Mutahar – sopir tentara yang juga pencipta lagu brilian itu – memisahkan kain berwarna merah dan putih, masing-masing dalam dua tas besar. Keduanya dijadikan dasaran tas. Sejak itu, secara riil bendera merah putih hasil karya Ny Fatmawati yang sakral sudah tamat. Tugas sejarahnya sudah selesai.

Lalu apa yang disebut pers sebagai Bendera Pusaka pada masa kini? Itu adalah karya Mutahar sendiri. Beberapa bulan setelah agresi militer II, Soekarno meminta kembali bendera tersebut dari tempat pengasingannya di Bangka. Mutahar yang menerima pesan, bergegas menyatukan kembali kain merah dan putih yang dulu dipisahkannya. Kali ini, ia tidak ikut-ikutan jejak Ny Fatmawati yang menjahit dengan tangan, tapi meminjam mesin jahit milik istri seorang dokter Belanda.

Lekatlah kembali si Merah Putih. Tapi jelas ini bukan karya Ny Fatmawati. Ini karya Mutahar. Setiap karya adalah otentik bagi pembuatnya, sekalipun ia adalah karya plagiat. Apalagi Mutahar meninggalkan ‘tanda tangan’ pada bendera hasil karyanya tersebut. Yup, di ujung bendera ada kesalahan penjahitan yang membaret sepanjang 2 cm.

So….perlukah pelurusan?

 

Next Page »

Blog at WordPress.com.