Dan akhirnya, setelah 4 tahun menangani salah satu klub terbaik di dunia, Barcelona, Pep Guardiola mengundurkan diri dari kursi pelatih.
Ada beberapa hal menarik yang bisa gw bahas disini.
Pertama, selama karier kepelatihannya yang pendek di Barca, Pep sudah memberikan semua gelar yang bisa didapatkan oleh Barcelona sebagai sebuah klub. Liga Spanyol, Piala Liga, Liga Champion, Piala Dunia Antar Klub. Belum ada 1 pun pelatih di dunia yang bisa melakukan apa yang dilakukan Pep dalam tempo hanya 4 tahun. Apakah itu sudah bisa menjadi justifikasi bahwa Pep adalah pelatih terbaik di dunia?
Tunggu dulu, belum tentu. Disinilah hal yang menarik untuk dibahas.
Betul Pep memberi banyak gelar, tapi itu hanya untuk Barcelona. Hanya untuk 1 klub saja. Barcelona, klub dimana dia ditempa dan diajarkan bagaimana bermain sepakbola sebenarnya. “Sepakbola itu sederhana, tapi memainkan sepakbola sederhana itu susah”, begitu Johan Cruyff mendefinisikan sepakbola dan gaya bermainnya. Gaya bermain yang dia tanamkan sebagai fondasi di klub Catalan tersebut. Cara itulah yang di ajarkan bocah-bocah La Masia dan hanya gaya bermain itu yang diketahui Barcelona. Butuh waktu sekian lama untuk menyempurnakan tiki-taka yang diidam-idamkan Cruyff dan Pep adalah manusia yang menyempurnakannya.
Sekarang, pertanyaan menarik. Apakah Pep bisa sukses dengan klub lain, dengan kultur yang berbeda? Merubah filosofi bermain suatu klub tidak gampang, tidak seperti kita mengganti baju. Contoh terkini, Luis Enrique di AS Roma. Kita lihat bagaimana Roma ala Enrique masih seperti meraba-raba kemauan sang Pelatih, masih gagap. Disatu sisi bermain luar biasa, disisi lain bermain seperti anak ayam kehilangan induk.
Dan yang perlu diingat, jejak rekam Pep di bursa transfer tidaklah mengesankan. Lebih banyak flop ketimbang sukses. Ini bisa menjadi batu sandungan di klub selain Barcelona. Presiden klub mungkin tidak sekalem Presiden Barca. Di Barcelona Pep diberkahi skuad yang luar biasa dan sesuai dengan taktik yang akan dia peragakan. Selain itu, pengetahuannya tentang klub, kultur dan akademi sepakbola Barcelona juga turut membantu Pep dalam meracik tim. Lebih banyak pemain akademi yang melesat setelah diorbitkan Pep ketimbang pemain yang dia beli dari bursa transfer.
Kedua, akan seperti apa Barcelona pasca Pep. Apakah mereka akan tetap memperagakan tiki taka dengan fasih seperti era Pep? Atau Tito Villanova sebagai penerus Pep malah punya jurus yang akan membuat Tiki taka lebih menggila? Ini yang patut ditunggu.
Me-manajeri sebuah klub sepakbola profesional dengan profil tinggi seperti Barca bukanlah hal yang mudah. Dan disini handicap Tito mungkin akan terlihat. Bagaimana dia mengatasi tekanan menta yang diberikan oleh Pers, bagaimana dia melindungi dan mengayomi pemainnya dari serangan pers. Bagaimana dia meng-handle psy-war dari tim lawan, bagaimana dia meng-handle kamar ganti? Apakah Tito punya cukup karisma untuk memegang ekor para pemain Barca? Untuk pemain-pemain semodel Xavi, Iniesta atau Messi mungkin masih bisa, tapi untuk bad boy seperti Dani Alves? Belum tentu. Kita sudah lihat bagaimana pemain Chelsea bisa membuat pemilik klub memecat pelatih sampai 2 kali karena mereka tidak suka.
Pertanyaan utama, apakah Pep sudah pantas digelari pelatih terbaik di dunia? Menurut gw, BELUM. Kenapa, krn suksesnya hanya diukur dari 1 klub saja. Banyak pelatih terkenal yang sukses di satu klub kemudian gagal total di klub lain, dan akhirnya karier kepelatihannya pun menjadi medioker. Contoh terkini, walaupun belum sampai medioker, Andre Villas-Boas (AVB). Sukses berat di Porto tapi kemudian flop di Chelsea. Semua karena dia tidak bisa merangkul pemain senior dan memaksa Chelsea bermain dengan gaya yang asing. Sekali lagi, merubah filosofi permainan sebuah tim tidak seperti mengganti baju.
Pep pelatih berbakat, yah hanya sampai sebatas itu saja penilaian gw. Jalan kepelatihannya masih panjang. Kalau dia melatih klub lain di luar Barcelona dan sukses, mampu merebut piala dan membuat tim asuhannya bermain fantastis seperti Barcelona, baru Pep bisa ditahbiskan sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia.
But for now, we all agree that we should say A BIG THANK YOU buat Pep Guardiola. Karena sudah memberikan penikmat sepakbola sebuah permainan menghibur yang tertanam dalam tim bernama Barcelona. We are going to miss you dan mudah-mudahan Barca bisa tetap sukses pasca Pep di tangan Tito Villanova.
Gracias Pep….